Gunung Merapi Field Trip with AKPAR Pertiwi

Jawa Tengah, provinsi yang memiliki banyak pesona alam dan wisata yang indah. Mulai dari pemandangan, budaya, dan kulinernya yang khas. Oleh karena itulah, kali ini para mahasiswa/I melakukan kegiatan field trip ke Jawa Tengah, lebih tepatnya ke area wisata Gunung Merapi.
Mahasiswa/i AKPAR Pertiwi melakukan kegiatan field trip ke Gunung Merapi dengan menggunakan jeep yang bisa memuat hingga 5 penumpang sebagai kendaraan utama untuk menuju area obyek wisata dan melihat dari dekat keadaan alam setelah erupsi hebat pada tahun 2010 lalu. Tampak keadaan masyarakat yang perlahan bangkit, begitu juga lokasi dimana bekas semburan lahar dahsyat itu terjadi. Kini tempat tersebut menjadi obyek wisata yang menghidupkan pariwisata di kaki Gunung Merapi.
Dengan berlatarkan pemandangan alam yang dapat dinikmati dengan udara yang sejuk, para peserta memulai perjalanannya sambil menyusuri lautan pasir sisa erupsi dan sensasi jalan bebatuan yang menemani sepanjang jalan. Para peserta diarahkan untuk meninjau salah satu rumah yang tersisa dan telah dijadikan museum yang menjadi saksi bisu dahsyatnya letusan Gunung Merapi.
Melalui perkampungan yang asri, para peserta melanutkan perjalanannya menuju perkampungan warga yang sudah tertimbun tanah dan bebatuan yang mana salah satunya terdapat sebuah batu yang dinamai warga sebagai batu alien.
Perjalanan dilanjutkan dengan berkunjung ke Bunker Kaliadem yang dibangun sebagai tempat perlindungan saat terjadi erupsi dan juga untuk memantau aktifitas Gunung Merapi. Bunker tersebut dibuat dari beton setebal 25 cm dan pintu yang terbuat dari besi. Bunker ini menjadi saksi bisu dimana 2 relawan meninggal karena suhu panas yang mana seorang relawan ditemukan tewas berendam dalam bak mandi, sedangkan lainnya tewas didepan pintu besi dikarenakan adanya material panas dengan suhu 1000 derajat Celcius. Walaupun Kini bunker tersebut sudah dibersihkan dan dicat putih, di depan pintu bunker terdapat prasasti mengisahkan riwayat bunker tersebut.

Audiensi Mahasiswa Semester 3 Akpar Pertiwi dengan Komisi X DPR RI

Komisi X DPR RI Fraksi PKS menerima audiensi Mahasiswa Semester 3 TA 2018/2019 Akademi Pariwisata Pertiwi, yang didampingi oleh 6 orang Dosen mereka. Audiensi ini dimaksudkan guna sharing knowledge terkait kondisi terkini mengenai Pariwisata di Indonesia. Selain itu kegiatan Audiensi ini merupakan salah satu Agenda wajib bagi Mahasiswa Semester 3 di Akpar Pertiwi. Di hadapan para mahasiswa Akpar, Komisi X DPR RI yang diwakili oleh Prof. Agus menyampaikan sejumlah penjelasan terkait pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh para peserta Audiensi, yakni seputar kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan Perkembangan Pariwisata di Indonesia.

Setelah selesai sesi Tanya jawab berakhir, seluruh peserta audiensi dan para dosen, diberi waktu untuk menikmati makan siang yang sudah disediakan oleh Tuan Rumah, dan dilanjutkan dengan sholat berjamaah di Masjid yang cukup besar, yang terletak di dalam area Gedung MPR/DPR RI. Usai makan siang dan sholat berjamaah, kami pun digiring untuk memasuki Museum MPR/DPR RI. Saat masuk ke dalam, pajangan yang pertama dilihat adalah beberapa kursi, meja, podium dan jam dinding yang menurut sejarahnya digunakan dalam sidang.

KNIP pada 7-12 Desember 1949 di Keraton Yogyakarta. Sidang itu membicarakan hasil Konferensi Meja Bundar yang menjadikan Indonesia sebagai negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Turut dipajang di antara kursi-kursi itu sebuah mesin tik yang digunakan dalam sidang konstituante di Bandung. Mesin tik jadul itu digunakan oleh sekretaris sidang DPR periode 1956-1959.  Selain itu, jika berjalan lagi ada benda lain yang kali ini dipajang di dalam kotak kaca, yaitu ‘keraf’ atau tempat air minum anggota MPRS tahun 1960-1965 dan pesawat telepon yang digunakan pada sidang umum MPRS 1960-1965 di Gedung Societeit Concordia Bandung (gedung merdeka). Sementara pada dinding-dinding museum ditampilkan foto-foto pimpinan DPR Sementara era 1950-1956, DPR hasil pemilu ke-1 1955-1959, dan seterusnya hingga pimpinan DPR hasil Pemilu 2014.

Setelah puas seolah memasuki lorong waktu, kami beranjak lagi menuju Gedung Kura-kura. Kami kemudian dipandu oleh seorang staff humas, yang menjelaskan dengan panjang lebar menegnai sejarah Gedung Kura-kura ini, juga fungsi dan kegunaan gedung tersebut. pada setiap sesi tentu tak lupa diakhiri dengan foto-foto bersama.

Menelusuri Goa Pindul dan Sungai Oya

Masih dalam rangkaian kegiatan Field Trip Akpar Pertiwi 2019, pada hari pertama (22 Juli 2019) ini temanya basah-basahan, setelah sebelumnya kita main air di Pantai Indrayanti, selanjutnya adalah berbasah-basah dengan duduk di atas ban besar berwarna hitam sambil menikmati cantiknya Goa yg berisikan batuan stalaktit sepanjang 500 meter. Goa yang namanya mulai meroket tahun 2010 ini terletak di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Ada 3 zona yang dilalui oleh para pengunjung. Zona tersebut adalah Zona terang, Zona remang, dan juga Zona gelap. Dimana perjalanan akan dimulai dari Zona Terang. Kemudian memasuki Zona remang. Hingga akhirnya, memasuki Zona gelap yang mengesankan dan mampu membuat jantung kami berdebar serasa mau copot. Tapi tak perlu takut sih, karna para guide masing-masing dibekali lampu sorot untuk pencahayaan ketika masuk di zona gelap. Sebelum menyusuri Goa, kami diminta untuk memakai jaket pelampung, setelah itu diadakan briefing sebentar sebagai pengarahan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketika sampai di penghujung Goa Pindul, kami semua turun dari ban untuk menikmati dinginnya air sungai oya dengan sempurna, ada juga yang sengaja lompat dari batu atas ke dalam sungai, dan kami semua berenang sampai ke tepian sungai. Seru? Pastinya doooong..